HELICOPTER PARENTING, POLA ASUH YANG TEPAT ATAU TIDAK?

Februari 28, 2019


Memutuskan untuk menikah di usia yang bisa dikatakan sangat muda (red: 19 tahun) menjadi sebuah keputusan yang berani dan terlalu dini. Namun, inilah jalan yang aku pilih ketika masih duduk di bangku kuliah semester satu. Bukan karena aku sudah memahani cara mengasuh anak dan pengetahuan lainnya yang berkaitan dengan rumah tangga. Seiring berkembangkan teknologi saat itu, aku mulai belajar pola asuh yang baik untuk anak-anakku nantinya. Tidak hanya melalui internet saja, melainkan turut mengikuti seminar parenting dan yang berkaitan dengan pola asuh. 

Latar belakang pendidikan ku, sarjana pendidikan. Dimana aku dituntut menjadi seorang pendidik yang baik dalam mengatasi puluhan bahkan ratusan anak didik di sekolah. Sering kali ketika aku bertugas menjadi guru kelas, justru setiap harinya selalu ada saja komplain dari orangtua yang berkaitan dengan anaknya di sekolah. Bagiku wajar jika orangtua memberikan pendapatnya tetapi bukan malah menghakimi guru karena kesalahan anaknya. 

Iya inilah yang dinamakan Helicopter Parenting Moms. Saya sangat senang dapat hadir di acara HaloMoms Community pada pekan lalu, dimana saya dan rekan blogger serta mommy milenial lainnya dapat menggali pengetahuan dan pengalaman yang berharga bersama Halodoc. 



Contoh kasus dalam dunia pendidikan ialah sebagai berikut :

Doni seorang siswa kelas 1 SD Suka Maju, ditugaskan oleh guru kelasnya untuk mengerjakan tugas rumah sebanyak 3 lembar pada buku tugasnya. Namun, Doni hanya membuat 1 lembar saja. Ternyata Doni telah membuat kesalahan dan menceritakannya kepada orangtuanya bahwa Ia salah dalam mengerjakan tugas. Tanpa berpikir panjang, ibu Doni langsung menegur guru Doni dan merasa tidak diinformasikan kembali di grup whatsapp atau menghubungi ibu Doni terkait tugas tersebut. 

Orangtua yang turut andil berlebihan inilah yang dapat dikatakan Helicopter Parenting. Pada kesempatan pekan lalu, bersama pakar psikologi ibu Rayi Tanjungsari, M.Psi membahas tuntas mengenai ciri, dampak dan cara menanggulangi pola asuh Helicopter Parenting tersebut. 


Ciri-Ciri Helicopter Parenting 

Dalam pola asuh Helicopter ini, orangtua seperti ini akan terus melayang dan mengitari anaknya. Agar terhindar dari pola asuh ini, orangtua harus mengenali ciri-cirinya diantaranya :

  • Terlalu protektif 
  • Reaksi berlebihan
  • Terlalu mengontrol 
  • Memberi jadwal terlalu padat
  • Menuntut akademis tinggi
Anak tidak akan merasa nyaman dengan pola asuh seperti ini. Tentu akan ada dampak negatif di masa sekarang dan masa depan buah hati. Ibu Rayi turut menjabarkan dampak yang akan dialami anak jika orangtua menggunakan pola asuh Helicopter seperti ini. 

Dampak Helicopter Parenting 

Pola asuh ini tidak disarankan di era milenial seperti ini, justru akan membuat anak tidak mempunyai tanggung jawab akan tugasnya. Beberapa dampak negatif lainya, yaitu:
  • Anak tidak akan percaya diri. Hal ini akan menghambat proses berkembangnya anak
  • Anak tidak mampu menghadapi tantangan hidup di masa depan, terutama pada lingkungan sekolah
  • Cenderung memiliki masalah kesehatan di masa dewasa
  • Kurang mampu meregulasi emosi dan cenderung mengalami depresi, kurang puas terhadap kegidupannya
  • Berpotensi kurang memiliki inisiatif dan motivasi dari dalam diri untuk menjadi sukses dan berhasil
Lalu, dari penjabaran diatas tentu kita tidak ingin terjebak dalam Helicopter Parenting kan Mom. 

How to Stop being helicopter Parents?
  1. Identifikasi Rasa Cemas
    Inget moms, mulai kelola kekhawatiran akan aktivitas si kecil. Kalau si kecil jatuh, jangan langsung mengedepankan emosi kelola lagi kekhawatiran moms dengan menarik napas panjang dan buang.
  2. Yakinkan Diri 
    Moms perlu banget nih meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik aja.
  3. Reset Pikiran 
    Moms coba bayangkan apa yang akan terjadi saat Moms memberikan peluang untuk anak mencoba.
  4. Take Action 
    Ketika suatu hal terjadi dan si kecil membutuhkan bantuan disinilah Moms beraksi. 

Tidak hanya empat tips diatas saja, membangun interaksi dengan anak menjadikan Moms tau bagaimana pola asuh yang dibutuhkan dan diinginkan si kecil. Sejak si kecil berusia satu tahun aku mencoba menjadi orangtua yang Ia inginkan, hal ini berpengaruh dalam pembendaharaan bahasanya. Mengapa demikian? Sebab interaksi terbangun dengan baik dan benar sehingga berpengaruh positif untuk tumbuh kembang anak.

Bagaimana Membangun Interaksi dengan Anak?

Dalam interaksi orangtua dan anak, dilihat dari 4 dimensi yaitu :

A. Ketertarikan 
Konsep pada poin ini adalah senangnya bersama-sama, adanya keterhubungan dan momen yang terjadi saat itu.

B. Struktur
Konsep pada poin ini adalah aman, terorganisasi dan teregulasi. 


C. Kasih Sayang 
Konsep pada poin ini adalah aman, berharga dan mengurangi stres.


D. Tantangan 
Konsep pada poin ini adalah kompetensi dan keahlian.




You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Popular Posts